PERSIAPAN UKG GURU PENJASORKES SD TAHUN 2015
MATERI :
PENGELOLAAN KELAS, GAYA MENGAJAR , MODIFIKASI PERMAINAN
SUMBER : Modul PLPG ( Univ. Negeri Malang )
PENGELOLAAN
KELAS DALAM PENJASORKES SD
A.
PENGERTIAN PENGELOLAAN KELAS
Seorang guru jika ingin
berhasil dalam pembelajaran harus bisa mengeloka kelasnya dengan baik. Menejemen
pembelajaran yang efektif akan bila seorang guru mampu mengelola kelasnya
dengan baik pula.
Dalam pengelolaan kelas perlu memperhatikan hal-hal sbb:
1.
Menetapkan
Aturan Kelas ( class routine)
2.
Memulai
kegiatan tepat waktu ( getting started)
3.
Mengatur
pelajaran (managing the lesson)
4.
Mengelompokkan
siswa (Grouping student)
5.
Memanfaatkan
ruang/lapangan dan peralatan (utilizing space and equipment)
6.
Mengakhiri
pelajaran (ending the lesson)
B. KEGIATAN PADA TAHAP INTI PEMBELAJARAN
Sesuai Permendiknas No. 41
th 2007 tentang Standar Proses, ada 3 proses yg harus dilalui
oleh peserta diddik pada kegiatan inti di kegiatan pembelajaran.
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yg dijabarkan
dalam beberapa indikator.
Kegiatan inti dilakukan secara sistematis
dan sistemik melalui 3 hal yaitu :
1.
Proses
Eksplorasi
2.
Elaborasi
3.
Konfirmasi
Untuk pembelajaran praktek di lapangan, tanpa dirancang secara khusus
otomatis telah dilakukan, tetapi untuk pembelajaran materi keshatan di dalam
ruang kelas diperlukan perencanaan secara khusus, agar terlihat proses
eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
C.
PENGEMBANGAN PESERTA DIDIK
Salah satu dasar pengembangan pembelajaran
penjasorkes adalah developmentaly appropriate practice, artinya metode,
materiajar, alat dan fasilitas disesuaikan tingkat pertumbuhan dan perkembangan
siswa
Untuk memahami karakteristik peserta didik dapat ditinjau dari segi :
a.
Tingkat
pertumbuhan dan perkembangan kognitif
b.
Pertumbuhan
dan perkembangan fisik
c.
Pertumbuhan
dan perkembangan motorik
d.
Pertumbuhan
dan perkembangan mental
Berdasarkan perkembangan Motorik, siswa SD saatnya mengembangakan
ketrampilan gerak dasar. Ada 3 gerak dasar yaitu :
1.
Gerak Lokomotor : jalan, lari, lompat, jingkat, merangkak,
memanjat dsb
2.
Gerak Non-lokomotor : melentukkan badan kebelakang dan ke depan
3.
Gerak manipulative : menendang bola, memvoli bola, menggiring bola,
melempar dsb
Pengembangan peserta didik dapat dikembangkan berdasarkan SK, KD, Indikator
dan Tujuan Pembelajaran. Setelah dirumuskan indikator dan tujuan pembelajaran,
dilanjutkan mengembangkan materi dan metode pembelajaran.untuk SD materi
dikembangkan berbasis permainan ( play & game).
Selain mengembangkan ranah fisik, psikomotor, kognitif, dan afektif,
seorang guru penjasorkes harus mengembangkan juga materi berbasis life sklill
yaitu ketrampilan yang sesuai dengan alam atau lingkungan.
GAYA MENGAJAR
UNTUK PENJASORKES SD
A.
Pengertian
Gaya Mengajar
Gaya Mengajar ( Style of teaching) adalah suatu bentuk kegiatan
pembelajaran yang dirancang dg sistem berbagai peran antara guru dan siswa,
mulai dari peran guru paling dominan (gaya Komando) sampai peran guru hanya sbg
fasilitator(gaya mandiri)
Pembagian gaya mengajar didasarkan serangkaian keterlibatan guru dan siswa
pada saat pra pertemuan (pre-impact-set), pada saat pertemuan (impact-set), dan
setelah pertemuan ( post-impact-set)
B.
Macam-Macam
Gaya Mengajar
Ada banayak gaya mengajar dalam
pembelajaran penjasorkes SD yang bisa kita pilih sesuai perkembangan peserta
didik.
Macam-macam Gaya Mengajar menurut Mosston & Ashworth ada 11 yaitu :
1.
Gaya
Komando ( command style / Gaya A )
2.
Gaya Latihan
( Practice Style / Gaya B )
3.
Gaya Resiprocal
( Resiprocal style / Gaya C )
4.
Gaya
Periksa Sendiri ( Self Check Style / Gaya D )
5.
Gaya inklusi
( Inclution style / gaya E )
6.
Gaya Pengajaran
Mandiri ( The self-teaching style / Gaya K )
7.
Gaya Penemuan
Terbimbing ( gaya F )
8.
Gaya Penemuan
Konvergen ( Gaya G )
9.
Gaya
Divergen ( Gaya H)
10.
Gaya Perencanaan
scr individu ( Gaya I )
11.
Gaya
Inisiatif dari siswa ( Gaya J )
MENGEMBANGKAN
PERMAINAN
Dalam pembelajaran
penjasorkes sering kali guru mengalami kendala dalam membimbing siswa untuk
bisa menguasai materi yang diajarkan, hal ini dikarenakan banyak hal. Beberapa
hal tersebut antara lain anak-anak takut melakukan permainan ( misal memainkan
bola voli ), peraturan terlalu sulit dan kaku, peserta didik tidak mampu
melakukan teknik dengan baik dll.
Menurut Teori Behavior dari Thorndike, pengalaman anak yang menyenangkan
akan cenderung diulang-ulang, sebaliknya pengalaman yang tidak menyenangkan
akan membuat takut untuk melakukanya lagi. Pengalaman yg menyenangkan akan
menbuat tujuan pembelajaran mudah tercapai tapi sebaliknya bila kurang menyenangkan
mak tujuan pembelajaran akan sulit tercapai juga.
MODIFIKASI PERMAINAN
Untk mengatasi persolan
diatas seorang guru penjasorkes harus bisa memodifikasi suatu permainan supaya
peserta didik bisa melakukan permainan dengan gembira dan ingin mengulangnya
lagi.
Bentuk modifikasi dapat mencakup berbagai hal , antara lain : peraturan
permainan, lapangan permainan, alat fasilitas, cara penscoran dll

UP
BalasHapusup
BalasHapussangat bermanfaat bagi temen2 makasih
BalasHapus